Ungkap Kebakaran, Kejaksaan Agung Pertanyakan Best Cleaner Masih Dijual

Ungkap Kebakaran, Kejaksaan Agung Pertanyakan Best Cleaner Masih Dijual

VIVA   –  Tim gabungan penyidik Bareskrim Polri telah menetapkan delapan orang tersangka kasus kebakaran Gedung Utama Kejaksaan Agung pada Jumat, 23 Oktober 2020. Salah satunya, Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Kejaksaan juga jadi tersangka inisial NH.

Penyidik Bareskrim menetapkan NH sebagai tersangka karena lalai tidak melaksanakan kewajiban sebagaimana kontrak untuk mengawasi, memeriksa dan menerima hasil pekerjaan yang dilaksanakan oleh penyedia dust cleanser merek Top Cleaner dari REHABILITATION APM.  

Dari hasil penyelidikan dan penyidikan yang dilakukan Bareskrim, ternyata dust cleanser merek Top Cleaner yang mengandung fraksi solar dan bensin tersebut tidak memiliki izin edar. Jadi, Direktur PT APM inisial L juga ditetapkan tersangka.

Baca: Polisi Ungkap Ada Tukang Selundupan Sebelum Kebakaran Kejagung

Kepala Pusat Penerangan Hukum Kejaksaan Agung Hari Setiyono mengatakan terkait dengan pengadaan top cleaner merupakan persoalan tersendiri kenapa produk itu masih dijualbelikan. Namun, penyidik telah menyampaikan adanya kealpaan.

“Permasalahannya kenapa [Top Cleaner] itu juga masih dijual, yg jual juga siapa, produksinya siapa—yang seharusnya sudah dilarang—itu saya kira permasalahan tersendiri. Tetapi, kemarin penyidik sudah menyampaikan ada unsur kealpaan di situ, ” kata Hari di Kejaksaan Agung pada Senin, 26 Oktober 2020.

Selanjutnya, Hari bukan mau menjelaskan lebih jauh lagi mengenai tukang selundupan atau bukan resmi termasuk kenapa bisa best cleaner tidak memiliki izin edar. Karena, menurut dia, sementara terkait penyidik Bareskrim masih bekerja.

“Saya enggak akan jawab karena sudah disidik Bareskrim. Kita ikuti aja, tunggu saja nanti hasil penydikannya sepeti apa, ” ujarnya.

Saat ini, Hari mengatakan jaksa peneliti menunggu berkas perkara dari penyidik Bareskrim Polri setelah ditetapkannya delapan jamaah tersangka dalam kasus kebakaran Gedung Kejaksaan yang terjadi pada Sabtu, 22 Agustus 2020.

Tim penyidik gabungan Bareskrim sudah menetapkan delapan orang tersangka kasus kebakaran Gedung Utama Kejaksaan, yakni lima orang tukang berinisial Big t, H, S, K dan IS USUALLY. Kemudian, seorang mandor berinisial UAN.

Selain itu, satu orang vendor PT ARM selaku perusahaan produsen cairan pembersih Best Cleaner inisial R, dan satu Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) insial NH.  

Arah perbuatannya, pelaku dijerat Pasal 188 KUHP juncto Pasal 55 KUHP juncto Pasal 56 KUHP dengan ancaman paling lama lima tahun penjara.  

Sementara, penyebab terjadinya kebakaran karena lima orang tukang telah lalai merokok di ruang Aula Biro Kepegawaian lantai 6. Saat itu, mereka sedang mengerjakan perbaikan ruangan namun sambil merokok. Padahal, ada bahan-bahan yang mudah terbakar seperti lem, tinner, kertas, karpet dan lainnya.