Muamalah saat Wabah

Muamalah saat Wabah

VIVA – Wabah virus Covid-19 sudah tembus ke 216 negara dengan terkonfirmasi 15. 745. 10 orang dan meninggal 639. 317 orang. Di Indonesia, datang Ahad 26/7 jumlah yang membangun 98. 778, sembuh 56. 655 orang dan meninggal 4. 781 orang, dengan tingkat kematian menyentuh sekitar 5 persen.

Pemerintah telah mengeluarkan imbauan pada masyarakat agar melakukan social distance, yakni mengurangi aktivitas di asing rumah dan menjauhi keramaian supaya rantai penularan virus corona bisa terhenti. Caranya adalah dengan terbuka jarak, jauhi kerumunan dan pada rumah saja.

Langsung bagaimana dengan muamalah yang harus dilakukan saat terjadinya wabah pandemi  Covid-19 ini? Padahal manusia ialah masuk sosial yang tidak mampu hidup tanpa orang lain.

Di samping itu, muamalah merupakan kebutuhan fitrah dan dasar dari manusia. Sehingga kita bakal merasakan kejenuhan manakala banyak melaksanakan aktivitas di rumah selama melaksanakan social distance.

Pola ajaran Islam terdiri dari aqidah, ibadah, akhlak dan Muamalah. Muamalah secara bahasa dari kata amala, yuamilu; bergaul, berbisnis, berhubungan secara orang lain.

Patuh istilah hubungan manusia dengan bani adam atau tingkah laku manusia antara sesama manusia. Sedangkan menurut Azhar Basyir (2000); pergaulan hidup, tempat setiap orang melakukan perbuatan di hubungannya dengan orang lain disebut muamalah.

Hubungan jarang aqidah, ibadah, akhlak dan muamalah tak bisa dipisahkan. Cara kerjanya; 1). Antara satu dengan lain saling berhubungan, 2). Tak ada yang lebih utama, karena semuanya adalah utama, 3). Melalaikan salah satunya, sama dengan mengabaikan semuanya.

Karena tersebut, kesempurnaan seorang muslim tidak hanya dilihat dari aqidahnya yang lurus, ibadahnya yang bagus, akhlaknya yang mulia tetapi juga muamalahnya dengan baik dan dapat dipertanggungjawabkan.

Ruang lingkup muamalah mengungkung; pertama, masalah kekeluargaan seperti ijab kabul atau perkawinan dan turunannya yakni talak, rujuk, iddah, pengasuhan budak, perwalian, kewarisan, wasiat, dan sebagainya.

Kedua, masalah harta benda dan perekonomian seperti benar milik, perdagangan, keuangan, perbankan, jual beli, sewa menyewa, utang tagihan, perburuhan, wakaf, hibah, gadai, jatuh dan sebagainya.

Ke-3, masalah manusia dgn kehidupannya; makanan, minuman, pakaian, tempat tinggal, kesehatan tubuh, pekerjaan, pemanfaatan sumber dalam, pelestarian lingkunga dan sebagainya.

Keempat, masalah politik, seperti ketatanegaraan, pemerintahanan, pemilihan umum, relasi seks, hubungan antara bangsa, antar suku, golongan, hubungan  intern dan mengiringi umat beragama dan sebagainya.

Kelima, masalah pendidikan & kebudayaan, pendidikan, pengajaran, ilmu pengetahuan dan teknologi, seni, budaya, olah raga dan lain-lain.

Dengan ruang lingkup yang begitu luas, maka dalam muamalah hubungan dengan sesama manusia, baik dengan langsung maupun tidak langsung, tidak bisa dihindari.

Real salah satu faktor utama penyebaran pandemi Covid-19 adalah melalui hubungan langsung dengan sesama manusia, semacam berjabat tangan dan berbicara dalam jarak yang dekat. Lantas bagaimana mengatasinya?.

Secara ijmal, syarat terjadinya muamalah adalah; 1). Saling ridha, yakni berdasarkan kerap sama diantara orang-orang yang bermuamalah, 2). Saling menolong untuk kebaikan, sehingga masing-masing pihak saling menutup satu sama lain, dengan rencana, cara dan tujuan untuk kebaikan bersama, dan 3). Saling menguntungkan, sehingga membawa kebahagiaan di negeri dan akhirat.

Sebab itu, ada beberapa fleksibilitas muamalah yang dapat dijadikan pedoman, tercatat ketika terjadi wabah, yakni: prima, ayat Alquran tentang muamalah bersifat umum dan jumlahnya sedikit, lebih banyak berbentuk pedoman dasar, global dan prinsipil, ada yang tidak tegas, tidak jelas, tidak uraian dan tidak terperinci.

Misalnya ayat tentang jual kulak; “Dan Allah telah mengha lalkan jual beli dan mengharamkan riba”(QS. Al Baqarah; 275).

Kedua, dalam urusan keduniaan, Nabi Muhammad SAW  membeikan guidance: Antum a’lamu biumuri dunyakum, yang berpengaruh bahwa kamu lebih tahu hendak urusan duniamu.

Hal ini berarti bahwa segala mengenai, pekerjaan atau urusan yang perkara dengan muamalah diserahkan sepenuhnya pada kebijaksanaan manusia, sesuai dengan status, kondisi dalam konteks waktu & tempat yang ada.

Tata cara jual bisa dikerjakan dengan cara langsung di rekan atau onlinemelalui aplikasi. Begitu selalu pembayarannya dapat dilakukan secara langsung, transfer bank, cek, giro, tunai atau cicilan.

Buat urusan muamalah duniawiyah, manusia lebih faham akan kebutuhan, tujuan, masalah dan solusinya agar membuat nyaman bagi semua. Karena itu berkelakuan fleksibel alias lentur.

Ketika sekarang ini terjadi epidemi Covid-19 yang membahayakan keselamatan para-para pihak yang bertransaksi, maka pembicaraan langsung dapat diganti dengan online, seperti dalam jual beli sasaran, tiket, pembayaran listrik, telpon, serta lain-lain.

Ketiga, bila tidak ada dalil dalam Alquran  dan hadits, maka: 1). Benar qaidah; adam ad dalil huwa al-dalil (tdk ada dalil itulah dalil). 2). Semua dibolehkan kecuali ada dalil yang melarangnya; Al aslu fil asy’ail ibahah hatta yadula dalila ala tahrimi, 3).

Prinsip utama dalam  muamalah adalah an taradhi minkum (suka sama suka). Karena itu, selama tidak ada paksaan, saling menyadari posisi masing-masing, memahami situasi dan kondisi yang ada, maka muamalah dapat dilaksanakan.

Sedangkan beberapa prinsip-prinsip dalam kegiatan yang harus dilakukan dalam muamalah (Ma’rifat Iman, ed; 2013), ialah; 1). Dilaksanakan atas dasar pokok tauhidullah, yakni sebagai bentuk ketaatan ibadah kepada Allah, 2). Pertimbangan akhlakul karimah, dengan mengedapkan nilai-nilai moral yang diteladankan Nabi Muhammad Saw, seperti jujur.

3). Bertujuan untuk kemaslahatan manusia, yang meliputi agama, jiwa, akal, keturunan dan harta, sehingga kemudharatan harus dihindari. 4). Harus halaldan thayyib; baik, bermanfaat dan tak membahayakan  atau merugikan, dan 5). Hukum muamalah pada dasarnya dapat kecuali ada dalil yang melarangnya,

Dengan demikian, bermuamalah saat terjadi wabah dapat dilakukan secara fleksibel guna menghindari terjadinya kemudharatan yang lebih besar dibanding hanya mengambil manfaatnya saja. Sesuai tukang ojol yang mengantarkan sasaran kepada pemesannya dan meletakan pada pagar rumah, sehingga menghindari terjadinya kontak langsung.

Patokan Islam mengenai muamalah bersifat fleksibel, dinamis dan bisa berubah cocok dengan serta berkembang sepanjang masa selama untuk mewujudkan kesejahteraan tumbuh batin, dunia akhirat, serta tidak bertentangan dengan prinsip ajaran Islam lainnya. Jadi mari tetap bermuamalah di tengah wabah Covid-19 secara tetap menjaga maslahah. Wallahua’lam. (Penulis: Faozan Amar, Dosen FEB UHAMKA dan Direktur Manajer Al Wasath Institute)