Muak Belajar di Rumah, Pelajar SMK Nikahi Dua Gadis Sekaligus

Muak Belajar di Rumah, Pelajar SMK Nikahi Dua Gadis Sekaligus

VIVA   –  Seorang pelajar kelas 2 Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB) nekat menikahi dua gadis dengan juga pelajar Sekolah Menengah Untuk. Pernikahan terjadi imbas dari pandemi COVID-19 yang tak berujung, yang menyebabkan masa belajar siswa pada rumah semakin panjang.

Fenomena pernikahan di kalangan siswi ini memang tengah marak. Alasannya klasik, bosan terlalu lama melancarkan di rumah, dan memilih menikah dengan teman sebayanya.

Baca:   Bosan Kelamaan Belajar di Rumah, 7 Pelajar dalam Lombok Timur Pilih Kawin

Seperti R (18), pelajar kelas XII SMK di Kecamatan Gerung, Lombok Barat membuat gempar jagat maya sebab menikahi dua wanita teman sebayanya, yang juga masih duduk pada bangku sekolah menengah atas. Rizal menikahi Fitriani, istri pertama, di 17 September 2020 lalu.

Saat dinikahi R, F (17) merupakan siswi kelas XII di salah satu SMA negeri di Kecamatan Lingsar, Lombok Barat.  

Sebulan kemudian, 12 Oktober 2020, R balik menikah dengan M (17), siswi kelas XII di salah satu madrasah aliyah, tinggalnya tidak jauh dari rumah R di Kecamatan Sekotong, Lombok Barat. Sebelum menikahi M, R meminta izin F, istri pertamanya.  

Ayuni, ayah daripada R, tidak menyangka anaknya nekat langsung menikah dua gadis sekaligus, meskipun dalam waktu yang berbeda. Padahal status pasangan muda-mudi itu masih tercatat sebagai pelajar membuang atas.

Awalnya, Ayuni mengaku tidak pernah diberitahu anaknya akan menikah untuk kedua kala. R hanya meminta izin untuk menikah dengan F, istri pertamanya. Setelah kedua pihak keluarga berembuk akhirnya wali menyetujui pernikahan R dan F.

“Tapi beberapa minggu itu kaget, rumpun M datang minta M dinikahkan sama R. Ibunya (R) tepat pingsan, ” kata Ayuni masa ditemui, Sabtu, 17 Oktober 2020.

R dan kedua istrinya saat ini tinggal dalam rumah orang tua R. Untuk beban kebutuhan sehari-harinya R dan perut istrinya masih ditanggung orang usang R. Terlebih pernikahan ini tidak tercatat di kantor urusan agama (KUA) karena termasuk pernikahan dibawah umur.

Meskipun ijab kabul tersebut telah terjadi, orang sampai umur R meminta anak dan perut menantunya tetap melanjutkan sekolah. Pihak orang tua tetap masih menanggung kebutuhan mereka sekolah karena masih menjadi tanggungjawab orang tua, meskipun sudah menikah di usia dengan masih belia.

Tengah itu, Dinas Pengendalian Penduduk Puak Berencana dan Pemberdayaan Perempuan & Perlindungan Anak (DP2KBP3A) Kabupaten Lombok Barat sudah melakukan monitoring terhadap ketiga pelajar di Lombok Barat yang nekat menikah dibawah sempurna.

Pihak DP2KBP3A meminta agar orang tua mendorong pihak laki-laki untuk tetap melanjutkan madrasah, begitu juga dua istrinya.  

Laporan: Herman Zuhdi-Rahmatul Kautsar/tvOne Lombok Barat