Jejeran Obat COVID-19 Diproduksi BUMN Farmasi

Jejeran Obat COVID-19 Diproduksi BUMN Farmasi

VIVA   –  Badan Usaha Milik Negara (BUMN) farmasi telah berhasil meracik dan akan mendistribusikan obat untuk atasi COVID-19. Kerelaan edar pun telah diberikan oleh Badan Pengawasan Obat dan Sasaran (BPOM) RI untuk mempercepat penanggulangan pandemi di Tanah Air.

Beberapa obat sudah siap diproduksi dan digunakan dalam mempercepat penanganan COVID-19. Berikut daftar obat beserta perusahaan yang meraciknya.

Baca Juga:   Imbas COVID-19, Kristina Jual Perhiasan Menetapkan Bertahan Hidup

Favipiravir
Dikutip dari laman Antara, PT Kimia Farma Tbk saat ini sudah mampu memproduksi obat untuk penanganan COVID-19, yaitu Favipiravir yang sanggup dipergunakan untuk terapi COVID–19. Penasihat Utama PT Kimia Farma, Tbk Verdi Budidarmo menambahkan untuk jenis obat Favipiravir yang dapat dipergunakan untuk terapi COVID-19, sudah dapat diproduksi sendiri oleh Kimia Farma.

Obat ini selalu merupakan produk pertama di Nusantara yang dikembangkan sendiri oleh BUMN dan telah mendapatkan Nomor Kerelaan Edar (NIE) dari Badan Kepala Obat dan Makanan (BPOM) dan akan didistribusikan ke seluruh layanan kesehatan sesuai dengan regulasi pemerintah.

Desrem
Sementara, PT Indofarma Tbk siap memasarkan obat anti- Corona Remdesivir dengan nama dagang Desrem dan obat ini diproduksi Mylan Laboratories Limited, atas lisensi lantaran Gilead Sciences Inc, Foster City dan United States of America.

Ilustrasi vitamin, obat, suplemen

Direktur Utama Indofarma Arief Pramuhanto mengatakan Produk yang akan kami pasarkan dalam waktu dekat adalah Desrem    Remdesivir Inj 100mg, yang telah mendapatkan persetujuan Emergency Use Authorization (EUA) di Indonesia dan telah disetujui oleh BPOM melalui penerbitan Bagian Izin Edar yang sudah diterbitkan pada tanggal 30 September 2020.

Arief mengatakan Desrem  Remdesivir Inj 100mg akan mulai dipasarkan pekan depan, merupakan obat yang digunakan untuk penggunaan dalam pasien rawat inap COVID-19 pada kondisi sedang-berat. Kemudian untuk ketersediaan stock untuk bulan ini, sudah ada sebanyak kurang lebih 400. 000 vial dengan harga yang tentunya terjangkau oleh masyarakat.

Dexamethasone
Selain Favipiravir, PT Kimia Farma Tbk, dan anak usahanya, PT Phapros, Tbk, telah berhasil memproduksi juga beberapa obat untuk penanganan COVID-19 antara lain Chloroquine, Hydroxychloroquine, Azithromycin, Favipiravir, Dexamethasone dan Methylprednisolon.

“Kimia Farma juga memproduksi beberapa multivitamin penambah gaya tahan tubuh seperti Vitamin C (tablet dan injeksi), Becefort, Fituno dan Geriavita sebagai tambahan keluaran untuk menjaga daya tahan awak, ” kata Direktur Utama PT Kimia Farma, Tbk Verdi Budidarmo dalam siaran pers humas Bio Farma di Bandung.

Oseltamivir
Tengah itu, anggota Holding BUMN Farmasi lainnya, PT Indofarma Tbk beserta seluruh grup usahanya (“Perseroan”) menolong upaya Pemerintah dalam hal penegasan penyebaran COVID-19 di tanah air melalui berbagai jenis produk jarang lain Oseltamivir 75vgr Caps dengan merupakan antiviral unggulan yang era ini telah menjadi rujukan jadi protokol pengobatan COVID-19 di berbagai rumah sakit.

Oseltamivir 75 gr Caps merupakan keluaran yang telah memiliki sertifikat Tingkat Kandungan Dalam Negeri senilai 40. 06 persen ini, telah dibuat sendiri oleh PT Indofarma, Tbk dengan kapasitas produksi sebesar 4, 9 juta Capsul per-bulan, jadi diharapkan dapat mampu mencukupi keinginan masyarakat Indonesia.

Covifor
Kalbe Farma dan PT Amarox Pharma Global (Hetero Group) selaku produsen salah satu obat COVID-19 (Remdesivir), dalam awal Oktober ini, di Jakarta. General Manager PT Amarox Pharma Global Sandeep Sur mengatakan kalau Obat yang disebut dengan tanda Covifor itu akan tetap dikerjakan uji klinis pada 25 orang pasien.

Diakui Sandeep, Hetero merupakan perusahaan pertama dengan menerima persetujuan Emergency Use Authorization (EUA) untuk Remdesivir dari Lembaga Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) di Indonesia. Covifor tidak hanya didistribusikan di Indonesia, melainkan pula sudah didistribusikan ke 126 negara di dunia, seperti di Amerika Latin, Asia, Afirka, Rusia, dan sebagainya.

“Meskipun COVIFOR telah melalui uji klinis, namun saya akan melakukan uji klinis khusus untuk Indonesia, seperti anjuran BPOM. Uji klinis COVIFOR di Indonesia akan kami mulai Oktober tersebut. Uji klinis ini akan dikerjakan selama tiga bulan ke ajaran terhadap 25 orang, ” ujarnya dikutip dari keterangan pers

Vitamin dan kendaraan kesehatan
Arief Pramuhanto menambahkan selain obat-obatan, PT Indofarma Tbk, juga telah memproduksi alat kesehatan seperti Medical Face Mask 3Play (Inamask), Hand Sanitizer (Clind), Rapid Test (Smart Diagnostic Covid19) hingga Mobile Diagnostic Real Time PCR, Produk Isolation Transport tenggat Virus Transport Media (VTM).

Selain obat-obatan dan multivitamin, PT Kimia Farma Tbk menggunakan jaringan ritelnya juga mendistribusikan juru bicara kesehatan seperti masker, hand sanitizer serta melakukan layanan pemeriksaan yaitu tes cepat atau rapid test yang hasil produksi PT Kimia Farma Tbk sendiri dan tes usap atau PCR Test di seluruh jaringan layanan kesehatan PT Kimia Farma Tbk yang tersebar di seluruh Indonesia.

Kerjasama vaksin

Sedangkan Bio Farma sebagai induk Holding BUMN Farmasi, mempunyai tugas untuk pengadaan vaksin COVID-19, yang merupakan hasil kolaborasi secara Sinovac, dimana saat ini masih dalam tahap uji klinis pada Bandung.

Sampai dengan akhir September 2020 yang cerai-berai, terdapat 1319 relawan sudah mendapatkan suntikan pertama, 656 relawan sudah mendapatkan suntikan kedua, dan 244 relawan dalam tahap pengambilan pembawaan pasca suntikan kedua. Hingga masa ini belum ada dilaporkan Perkara Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) betul-betul akibat vaksin atau vaksinasi. (Ant)

Seperti diketahui, jumlah penderita COVID-19 di Indonesia saat ini masih tinggi. Untuk itu, pasti lakukan 3M: Memakai Masker, Mengelola Jarak dan Jauhi Kerumunan serupa Mencuci Tangan.  

#satgascovid19
#ingatpesanibu
#pakaimasker
#jagajarak
#cucitanganpakaisabun